Senin, 18 Mei 2015

Kepiting Yang Pintar (Albania)



Dahulu kala rubah dan kepitingbersama-sama menanam pohon apel untuk mereka. Ketika musim panen tiba, buah apel mereka berbuah sangat banyak sekali. Mereka lantas memetiknya dan memasukkan ke dalam keranjang.

“Rubah, bagaimana kita membagi buah apel ini secara adil?” kata si kepiting.

Rubah mendapatkan ide yang licik lalu berkata, “Kau tunggu di sini aku akan mengambil beberapa keranjang lagi!”.

Si rubah lantas membawa tiga keranjang kecil dan membagi rata apel itu. Si kepiting mulai curiga dan bertanya kepada rubah.

“Rubah kita kan hanya berdua, mengapa jumlah keranjangnya ada tiga?” kata si kepiting.

Rubah lantas senyum dan berkata, “Sekarang kita berlomba. Siapa yang bisa sampai ke atas bukit itu terlebih dahulu akan mendapatkan satu keranjang lebih ini.”

“Hemmm, ternyata dia berusaha memperdayai aku,” kata kepiting dalam hati.

“Baiklah, aku terima tantanganmu. Kau boleh berlari terlebih dahulu!” kata si kepiting.
 
Si rubah lantas berlari sangat kencang. Tanpa ia ketahui ternyata kepiting lompat dan mencapit ekornya. Begitu hamper tiba di puncak, rubah berhenti dan mencoba melihat si kepiting.

“Pasti si kepiting sudah tertinggal jauh sekali” kata si rubah.

Ketika si rubah sedang memandang ke bawah, si kepiting lompat dan berjalan sampai ke puncak. Si kepiting lantas berseru, “Hei rubah mengapa kau lama sekali.”

Si rubah kaget melihat si kepiting telah sampai terlebih dahulu. Akhirnya, si kepiting mendapatkan satu keranjang yang mereka rebutkan.

Pesan moral:

Janganlah kita menipu karena bisa-bisa kita mendapatkan balasannya.

Dua Keledai Dan Perampok (Prancis)



Seorang saudagar sedang melakukan perjalanan ke sebuah tempat. Ia membawa serta dua ekor keledainya. Pada punggung keledai, masing-masing membawa beban yang cukup berat. Satu keledai membawa karung berisi uang emas dan keledai lainnya membawa karung berisi gandum.

Keledai yang membawa uang emas berjalan dengan bangga dan selalu membunyikan lonceng yang berada di lehernya. Keledai itu seolah-olah ingin memberitahukan bahwa ia membawa barang berharga di punggungnya. Sedangkan keledai lainnya, berjalan di belakangnya dengan tenang sambil melangkah santai.

Tanpa diduga, sekelompok perampok yang sudah mengintai si saudagar, segera menyergap. Satu perampok berhasil menjatuhkan keledai yang membawa uang mas dan kemudian merampasnya. Sedangkan keledai yang membawa karung berisi gandum justru selamat dari serangan perampok.

Kini, tinggal keledai yang membawa emas terluka. “Aduh, ini semua sungguh tidak adil! Mengapa hanya aku yang terluka? Mengapa si keledai pembawa gandum justru selamat? Bukankah aku sudah berjasa membawa barang berharga milik manusia?” ucap keledai pembawa koin emas sambil mengerang kesakitan.


Keledai pembawa gandum pun berkata, “Teman, memegang sesuatu yang berharga atau memegang peranan penting itu tidak selalu menguntungkan. Akan banyak risiko yang harus di hadapi. Oleh karena itu, aku cukup bersyukur dengan keadaanku yang tidak memegang peranan penting. Karena dengan begitu, aku bisa terhindar dari masalah yang berat.”

Pesan moral:

Semakin besar tanggung jawab kita, akan semakin besar risiko yang harus dihadapi. Dan jangan pernah memamerkan kekayaan yang kita miliki karena hanya akan mengundang bencana.

Beruang Yang Jahil (Italia)



Di dalam hutan, ada seekor ada seekor beruang yang sedang berjalan mencari makan. Ketika melewati sebuah pohon, ia melihat seekor lebah sedang terbang dan berkumpul pada suatu tempat. Karena penasaran, si beruang pun menghampirinya.

Lebah-lebah itu bekerja bersama-sama. Ada yang berpatroli terbang di sekitar sarang ada pula yang keluar masuk membawa sari bunga. Rasa ingin tahu beruang semkin bertambah dan ia mencoba mendekatkan mulutnya ke dalam sarang dan memasukkan tangannya ke dalam sarang.

Di dalam sarang, beruang merasakan ada yang lembek dan basah. Ketika ia menarik keluar tangannya, ia mendapatkan tangannya penuh dengan cairan lengket. Si beruang mencoba menjilati cairan itu.

“Hmmm… enak sekali, terasa sangat manis,” kata si beruang.

Tanpa disadari oleh si beruang, lebah-lebah penjaga yang mengetahui akan hal itu menjadi marah karena beruang telah mengambil madu mereka. Lebah-lebah itu lantas terbang dan menyengat seluruh tubuh beruang.


“Aduh sakit,,, aw sakit,” teriak beruang.

Beruang berusaha melawan dengan memukuli lebah-lebah itu namun tak satu pun dapat dia sentuh. Beruang terus melawan sampai ia lemas karena lelah dan jatuh tersungkur.

Pesan moral:

Orang yang berbuat jahil akan mendapatkan hukumannya.

Rubah Yang Selalu Mengeluh (Roma Kuno)



Di dalam hutan, ada seekor rubah yang sedang mencari makan. Ia telah berkeliling di dalam hutan, namun tidak mendapatkan makanan dan perutnya semakin terasa lapar.


Hari semakin berlalu dan matahari mulai tenggelam. Si rubah belum mendapatkan makanannya. Ia berjalan sampai ketika melewati sebuah pohon ia melihat ada sekawanan burung yang sedang berkicau. Si rubah terus memperhatikan burung-burung itu samba mengeluh, “Tuhan seharusnya tidak melakukan hal ini padaku. Aku sudah berkelana tetapi tidak mendapatkan makanan juga. Tuhan seharusnya menjadikanku seekor burung saja, aku pasti akan seperti mereka, tidak kelaparan dan tetap berkicau,” kata si rubah.

Si rubah itu terus berandai-andai dan mengeluh. Tanpa disadari, iia terperosok ke dalam lubang.

Untung saja lubang ini tak berair, jadi aku selamat. Aku semakin yakin tuhan seharusnya menciptakan aku menjadi seekor burung, bukan rubah. Sayangnya, tuhan selalu tidak mengabulkan permintaanku,” kata si rubah.

Pesan moral:

Janganlah menyalahkan orang lain jika harapanmu tak terwujud.

Anjing pemburu Yang Tak Tahu Terima Kasih (Prancis)



Seekor induk anjing pemburu akan segera melahirkan. Ia berusaha mencari tempat yang nyaman untuk melahirkan. Tapi, setelah berjalan sekian lama, ia tak juga menemukan tempat yang pas.

Tidak berapa lama kemudian, ia menemuan sebuah kandang dengan tumpukan jerami yang banyak. “Sepertinya kandang ini cukup nyaman untukku melahirkan,” ucap induk anjing pemburu.

Ternyata, kandang itu adalah tempat tinggal seekor anjing kampung. “Bolehkah aku meminjam kandangmu sementara waktu? set elah aku melahirkan, barulah aku akan pergi dari sini,” ucap induk anjing pemburu memohon.

“Baiklah, silahkan kau pakai kandangku sampai kau melahirkan,” ucap anjing kampung.

Anjing kampung itu kemudian pergi mencari ttempat lain untuk ia jadikan tempat tinggal sementara. Beberapa hari kemudian, sang induk anjing pemburu akhirnya melahirkan. Anak-anaknya pun tampak sehat. Tibalah sang anjing kampung datang untuk meminta kembali kandangnya.

“Oh maafkan aku, sepertinya aku belum bisa keluar dari kandang ini. Anak-anakku masih sangat kecil. Mereka belum bisa berjalan. Berikan aku waktu lima belas hari, setelah itu kami akan pergi,” ucap induk anjing pemburu memohon.

Melihat anak-anak anjing yang masih menyusu, membuat anjing kampung tidak tega mengusir anjing pemburu. “Baiklah, silahkan kau pakai kandangku selama lima belas hari,” ucap anjing kampung.

Tak terasa, lima belas hari telah berlalu.anjing kampung itu berniat untuk mengambil kembali kandangnya. Tapi sesampainya di sana, tiba-tiba induk anjing pemburu itu berbicara dengan kasar.

“Untuk apa kau kemari? Jangan pernah kau mengganggu kami lagi! Jika kau berani, kau akan rasakan akibatnya!” ancam induk anjing pemburu.


Anjing kampung itu kaget bukan kepalang. Anak-anak anjing pemburu yang dahulu masih sangat kecil, kini sudah menjadi anjing pemburu dewasa yang siap menyerang kapan saja. Dengan berat hati, akhirnya anjing kampung harus merelakan kandangnya direbut oleh anjing pemburu.

Pesan moral:

Terkadang perbuatan baik tidak selamanya akan berbalik baik. Tapi kita harus mencoba untuk terus berbuat baik. Sebab, Tuhan menyanyangi oaring-orang yang bebuat baik.